JUDUL

Jumat, 11 Februari 2011

KHOLIFAH


KHOLIFAH

Tulisan ini dibuat untuk mengangkat batang yang terpendam dengan harapan
ada manfaatnya di masa-masa yang akan datang

Untuk tidak mengkelirukan bahwa yang dimaksud kholifah disini adalah kholifah dalam versi Al Quran, bukan pegertian kholifah dalam versi parsulukan / thoriqot. Karena pengertian kholifah menurut Al Quran dan Parsulukan ini sangat jauh berbeda walau dari satu dua sisi ada persamaan.

Dalam Suroh Al Baqoroh ayat 30 Allah berfirman : Inni ja'ilun fil ardli kholifah, Sesungguhnya Aku akan menjadikan kholifah di bumi. Tugas kholifah adalah untuk memakmurkan, melestarikan dan memimpin komunitas manusia di bumi. Tugas ini begitu kompleksnya sehingga tidaklah setiap orang dapat diangkat kholifah. Persaratan menjadi kholifah tentu ada, untuk itu marilah kita perhatikan firman Allah : Wa 'allama Adamal asmaa'a kullaha, Allah mengajari Adam tentang 'asma seluruhnya . ( Al Baqoroh : 31 ).

Dari segi bahasa asmaa' jamak taksir dari ism. Ism dalam bahasa Indonesia artinya nama. Jadi yang diajarkan Allah kepada Adam adalah nama-nama ( benda ) seluruhnya )Al Quran dan Terjemahannya halaman 14 ), dan dalam kitab Syamsul Ma'arifil Kubro halaman 373 karangan Imam Ahmad Ali al Buniy, ditambah lagi dengan ilmu sience dan tehnologi, untuk jelasnya begini :

اِعْلَمْ اَنَّ الْبَارِئََ جَلَّ وَعَلاَ عَلَّمَ آدَمَ الاسْمَاءَ كُلَّهَا وَعَلَّمَهُ كَيْفَ يَسْتَخَرِجُ جَمِيْعَ الْمَعَادِنِ مِنَ الارْضِ وَتَرْكِيْبَ الصُّنْعَةِ مِنْهَا فَلَمَّا اَتْقَنَهَا وَاَحْسَنَهَا عَلَّمَهُ اللهُ صُنْعَةَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَاَحَبَّ اَنْ يُعَلِّمَهَا ابْنُهُ شِيْثٌ فَقَالَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ اِنَّ اللهَ اَمَرَنِيْ اَنْ لاَ اُعَلِّمَهَا اِلاَّ لِلْمُتَعَبِّدِيْنَ مِنْ اَوْلاَدِيْ فَذَهَبَ شِيْثٌ عَبَّدَ اللهَ 40 سَنَةً ...................................................................

Artinya : Ketahuilah bahwa Allah Al Baari'a Jalla wa 'Ala telah mengajarkan kepada Adam akan asmaa' seluruhnya, dan mengajarkan pula bagaimana cara mengeluarkan barang tambang dari bumi dan cara mengolahnya. Dan tatkala Adam telah menguasai kedua ilmu itu dengan baik, Allah ajarkan pula kepadanya cara mengolah emas dan perak. Setelah Adam menguasai ilmu itu, anaknya Syits ingin untuk mempelajarinya, Adam berkata : 'Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk tidak mengajarkannya kecuali kepada yang telah melaksanakan ibadah dari anak-anakku ' , oleh karena itu Syits beribadahlah kepada Allah selama 40 tahun……………………..

Begituilah Allah mengajarkan sience dan tehnologi kepada khalifah pertama Adam, dan begitu juga Allah telah mengajarkan sience dan tehnologi ini kepada kholifah-kholifah sesudah Adam, misalnya nabi Idris, nabi Musa, nabi Ibrahim, nabi Daud, nabi Sulaiman dan nabi-nabi sesudahnya.

Adam, Idris, Musa, Ibrahim, Daud, Sulaiman dan nabi-nabi sesudahnya yang menjabat sebagai Rasul sekaligus sebagai kholifah, tentunya telah dibekali lebih dulu ilmu tentang ketuhanan, ilmu tentang syariat, ilmu tentang sience dan tehnologi, begitu juga ilmu tentang manusia, komponennya, kebutuhan jasmani dan rohaninya, prospeknya , potensinya, typenya, dan seterusnya, yang tidak perlu lagi diuraikan disini satu persatu. Sehingga tepat sekali kalau dikatakan bahwa mereka selain nabi yang menguasai ilmu ketuhanan dan ilmu syariat, adalah juga kholifah yang menguasai sience dan tehnologi serta ilmu hikmah yang tinggi, supaya misi mereka sebagai kholifah dapat mengimbangi tantangan yang akan mereka hadapi di tengah-tengah komunitas manusia yang beraneka ragam kepentingan.

Dan dengan nalar yang sederhana, kita akan menemukan bahwa ilmu itu terbagi :
1. ilmu yang tersurat
2. ilmu yang tidak tersurat

Ilmu yang tersurat adalah segala ilmu yang terdapat pada kitab suci sama ada tentang tauhid, syariat dan akhlak maupun ilmu lainnya. Dan ilmu yang tidak tersurat adalah segala ilmu tentang sience, ilmu pasti alam / sunnatulloh yang terdapat pada seluruh alam. Kedua macam ilmu ini bersumber dari Allah, dan kepada kita diperintahkan Allah untuk membacanya melalui ayat yang pertama turun ( iqro' ) bacalah yang tersurat dan baca pulalah yang tidak tersurat yang terbentang di alam semesta, tetapi kedua macam ilmu ini diberikan Allah kepada Adam secara langsung, sehingga Adam tidak menerima kitab suci, dan tidak perlu lagi belajar secara formal seperti yang sudah lazim di kalangan manusia.

Saya yakin bahwa masih banyak diantara manusia yang hidup di zaman modren ini kalaupun pendidikannya sudah tinggi tapi belum mengetahui seluk beluk menambang, membakar, membersihkan, dan mengolah emas supaya bisa menjadi perhiasan yang dikehendaki seperti yang diajarkan Adam kepada anaknya. Ini membuktikan bahwa Adam telah menguasai sience kalaupun tidak belajar formal seperti yang kita budayakan sekarang ini.


Berdasarkan uraian diatas, maka persaratan menjadi kholifah, mesti mengetahui / menguasai kedua macam ilmu itu secara lengkap.

Pada masa kini, apakah kedua sisi ilmu itu dapat dikuasai oleh seorang individu sekaligus ? Kemungkinan untuk itu tetap terbuka, sebab para Rasul dan Ulama telah banyak yang sukses menjadi khalifah di masa yang lampau. Kalau ada di masa kini orang yang seperti itu, iya …. alhamdulillah, dan kalau tidak ada maka alternatifnya mesti digabung beberapa orang dari berbagai disiplin ilmu, sehingga gabungan dari mereka ini, bisa memenuhi kedua unsur ilmu tadi.

Di Indonesia penerapan konsep ini – menggabung beberapa orang ahli dalam pemerintahan - telah lama dipraktekkan tapi apakah mereka telah benar-benar menguasai kedua sisi ilmu itu ?

Fenomena di lapangan – ini yang saya lihat – bahwa pakar dari ilmu yang tersurat dan pakar dari ilmu yang tidak tersurat ini, selalu berseberangan, saling curiga, saling melecehkan, sehingga sering terjadi tabrakan, bahkan perang terbuka. Kekeliruan ini sudah saatnya dibuang jauh-jauh, sebab kedua macam ilmu itu seperti telah dijelaskan adalah bersumber dari YANG SATU yaitu Allah.

Biasanya ilmu yang tersurat dikuasai oleh Ulama, tapi malangnya sedikit sekali dari mereka yang menguasai ilmu yang tidak tersurat, sehingga mereka belum memenuhi sarat untuk menjadi kholifah. Sementara ilmu yang tidak tersurat ini biasanya dikuasai oleh orang-orang barat, tapi malangnya mereka tidak menguasai ilmu yang tersurat. Oleh karena itu – mereka yang seperti itu - belum memenuhi sarat menjadi kholifah, maka wajar saja apabila sering terjadi tabrakan diantara kedua front ini.

Kita akui, banyak dari kalangan muslim yang menguasai ilmu yang tersurat, dan banyak pula yang menguasai ilmu yang tak tersurat ini, namun diantara mereka lebih banyak yang menguasai satu sisi saja. Sebagian mereka memang mahir sience dan tehnologi, tapi terbelakang di bidang ilmu agama. Dan sebagian lagi pakar di bidang ilmu agama, tapi ketinggalan jauh di bidang sience dan teknologi.

Menurut saya, inilah akar permasalahan sehingga sering jadi masalah. Apabila pola yang berlaku selama ini dirobah sedikit demi sedikit maka saya optimis, baldatun thoyyibatu wa robbun ghofur akan tercapai dengan mudah, atau paling tidak dapat mengimbangi pelecehan, dan kebiadaban yang sering dialamatkan kepada kaum muslimin.

Untuk memantapkan pemahaman tentang ilmu ketuhanan, alangkah baiknya kalau kita membahas makna dan rahasia asma'ul husna yang 99 itu yang tercantum dalam beberapa kitab, termasuk pada beberapa pasal dari kitab Syamsul Ma'arifil Kubro, dimana antara pasal yang satu dengan pasal yang lain saling melengkapi. Karena dengan memahami asmaul husna dengan benar, tidak tertutup kemungkinan kita bisa memahami rahasia alam semesta dari awal sampai akhirnya. Sebab apapun dia, semuanya berasal dari Allah, dari sifat-Nya, dari asma-Nya dan dari af'al-Nya. Dan kita sangat dianjurkan untuk mempelajari ilmu ini lebih mendalam. Kalau ilmu ini telah dikuasai, mesti pula ditambah dengan ilmu tentang sience, sehingga – seperti harapan kita bersama – kemakmuran di muka bumi akan tercapai dengan mudah.

Akhirnya, ya Allah berilah kepada kami hidayah dan taufiq-Mu, sehingga kami dapat mentaati-Mu zahir dan batin, untuk kemudian berilah kami inayah-Mu sehingga kami ( atau dari golongan kami ) bisa muncul orang / komunitas yang dapat memenuhi sarat menjadi pemimpin kami, menjadi kholifah kami. Amin.

(rahman lubis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar