JUDUL

Sabtu, 19 Maret 2011

Sumur Zam Zam


- Penemuan Pertama

Menurut Fatul Bari (Bab: kitab Al-Anbiya’), bahwa Kabilah Jurhun yang hidup di Jaziraul Arab senang sekali berhijrah. Tapi setelah melihat ada tanda wujudnya air Zam Zam di kota Makkah, mereka segera membuat perkampungan dan mendirikan kemah-kemah di sekitarnya. Tentu yang pertama kali menemukan Zam Zam adalah seorang wanita. Dialah siti Hajar, istri Ibrahim as. Disaat akan ditinggalkan suaminya, ia menyeret jubbahnya seraya berkata: “Kemanakah engkau hendak pergi?, dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada penghuni? Apakah Allah yang menyuruhmu?” Nabi Ibrahim as menjawab: “Ya”. Hajar berkata: “Jika demikian pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Setelah perbekalan Hajar habis ia tinggalkan anaknya di sebuah pohon yang rindang dan berusaha (sa’i) mencari air. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang dan bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti ia melakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah.Ternyata air yang dicarinya keluar deras dari tumit si bayi. Maka keluarlah air Zam Zam.

Subhanallah, dari pasir gersang itu keluarlah air. Mulai saat itu Makkah yang dulu merupakan kota tandus, gersang, tak ada pepohonan yang tumbuh, dan tidak ada penghuni yang hidup, berkat nabi Ismail as, datok nabi kita Muhammad saw, menjadi kota yang subur, makmur dan terlimpah didalamnya aneka ragam dari keberkahan Allah. Semua ini karena air Zam zam yang keluar di tanah Makkah.

- Penemuan Kedua

Maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah, kabilah Jurhum mulai berdatangan ke sana untuk menetap dan mendudukinya. Campur baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismalil tak bisa dielakan. Dari sana, terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Itulah sebahagian dari keunggulan dan keistimewaan air Zam Zam.

Hari berganti hari dan zaman berganti zaman, sehingga datanglah hujan lebat dan banjir dahsyat yang membuat telaga Zam Zam lenyap dan tidak ada tanda-tanda untuk diketahuinya lagi. Ini menurut riwayat Yaqut Al-Hamawi. Adapun menurut pendapat yang benar bahwa sumur Zam Zam ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh kabilah Jurhum disaat mereka akan meninggalkan kota Makkah.

Telaga Zam Zam terus lenyap dari permukaan bumi Makkah dan tidak diketahui tempatnya, hingga Abdul Muttalib, kakek Nabi saw, memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jama’ah haji. Dengan ru’ya shadiqah (impian yang benar) ia akhirnya ditunjukan Allah tempat sumur Zam Zam yang tidak pernah kering airnya dan tidak pernah surut. Sumur ini dinamakan Zam Zam karena airnya yang sangat banyak dan Zam Zam dalam bahasa Arab berarti banyak dan berkumpul. Seandainya siti Hajar disaat menemukannya tidak mengumpulkan pasir di sekitar tempat air dan tidak menciduknya, maka air Zam Zam akan mengalir terus sehingga bisa menenggelamkan semuanya.

- Keberkahan Zam Zam

Tempatnya 20 meter ke kiri dari Ka’bah ada semacam terowongan ke bawah. Sumber air Zam Zam itu sekarang sudah ditutup dan dipagari dengan kaca tebal dan didalamnya sudah dipasangi instalasi pipa modern untuk mengalirkan air Zam Zam itu ke tempat tempat yang sudah ditentukan. Sampai sekarang sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11 – 18.5 liter/detik, hingga permenit dapat mencapai 660 liter/menit atau 40 000 liter per jam. Celah-celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang kearah hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil kearah Shaffa dan Marwa. Subhanallah.

Dahulu pada masa jahiliah air zamzam dijuluki syabba’ah artinya yang banyak mengeyangkan, dan diyakini bahwa ia adalah sebaik-baik penolong bagi keluarga. Zam-Zam memiliki nilai yang sangat tinggi bagi umat Islam karena ia adalah air penuh Barokah, air yang diberikan oleh Allah sehingga dapat diminum untuk niat apa saja.
- Keistimewaan Zam Zam

1- Dari salah satu bukti yang menunjukan keutamaan Zam Zam adalah saat malaikat Jibril as membelah dada Rasulallah saw, ia membasuhnya hati beliau dengan Zam Zam. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Dhar Al-Ghifari bahwa Rasulallah saw bersabda: “ Atap rumahku dibuka saat aku berada di Makkah dan Jibril as turun dan membelah dadaku kemudian ia membasuhnya dengan Zam Zam. Lalu ia membawa bejana besar terbuat dari emas berisi hikmah dan keimanan dan menuangkannya ke dalam dadaku. Kemudian ia menutupnya. Lalu ia memegang tanganku dan membawaku ke langit”

2- Mujahid berkata: “Aku tidak pernah melihat Ibnu Abbas ra memberi makan seseorang kecuali ia juga memberikan air Zam Zam untuk diminum. Ia juga mengatakan setiap kali tamu datang berkunjung Ibnu Abbas akan menjamunya dengan air Zam Zam.

3- Diantara keistimewaan air Zam Zam adalah bahwa Rasulallah saw menjadikan siapa yang meminumnya sampai kenyang akan dibersihkan hatinya dari sifat munafik

4- Diriwayatkan dari Jabir ra bahwa Rasulallah saw meminta seember air Zam Zam, lalu beliau meminumnya dan memakainya untuk berwudhu’.

5- Dalam kitab Shahih diriwatkan; saat Abu Dzar telah memeluk Islam, ia berkata: “Ya Rasulallah saya berada di sini selama 30 hari”, beliau bersabda: “Siapa yang memberimu makan?”, ia berkata: “Aku tidak mempunyai makanan apapun jua hanya air Zam Zam, tapi berat badanku bertambah sehingga aku dapat merasakan lipatan lemak pada perutku, dan aku tidak merasa lapar sama sekali”. Lantas beliau bersabda: “Zam Zam diberkahi dan mengandung makanan bergizi”.

Ada puluhan kisah yang saya tidak bisa bawakan disini tentang hasiatnya air Zam Zam dan bagaimana orang yang menderita penyakit dimana dokter menyerah dan putus harapan terhadap kesembuhanya, tapi dengan seizin Allah mereka dapat diobati dengan air Zam Zam dan khasiyatnya yang tersembunyi. Sungguh Rasulallah saw telah bersabda “Air yang paling baik di permukaan bumi adalah air Zam Zam, didalamnya terdapat makanan bergizi dan dapat menyembuhkan penyakit” (HR at-Tabarani dari Ibnu Abbas)


rahman lubis

Rukun Yamani




Rukun yamani adalah sisi atau sudut Ka’bah yang menghadap ke arahYaman. Atau disebut sudut arah Yaman. Rukun yang sejajar dengan hajar aswad ini sangat penting artinya bagi keistimewaan Ka’bah. Di sudut ini setiap jamaah yang thawaf disunnahkan untuk menyalami atau mengusap dengan tangan kanan atau cukup dengan melambaikan tangan ke arah sudut ini dengan mengucap “Bismillah Wallahu Akbar”. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw hanya menyalami Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja. Sedangkan Ibnu Umar ra mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya mengusap keduanya yakni Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapus dosa-dosa.”

Rasulullah saw. ketika berada diantara dua rukun ini yaitu Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad, beliau membaca doa:

رَبَّنَآ آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ



Artinya:”Ya Tuhan kami, berilah kami kabaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” Al-Baqarah: 201

A.R.LUBIS

Multazam


Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan, karena itu diperebutkan jutaan orang saat berhaji atau umrah. Semua berusaha berdoa menyampaikan hajat masing-masing di lokasi sempit itu. Untuk menyentuh Multazam terutama di musim haji tidak mudah, penuh dengan perjuangan. Hanya pertolongan dan anugrah Allah seseorang dapat menikmati kemurahan-Nya di Multazam.

Disunahkan berdoa di Multazam sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan Abu Daud bahwa Abdurahman bin abu Shafwan berkata ”Saat Rasulallah saw menaklukan kota Makkah, aku keluar dan melihat Rasulallah saw dan para sahabat keluar dari Ka’bah. Mereka menyentuh sudut dari pintu Ka’bah sampai ke Hathim (sudut hijir Ismail), menempelkan pipi mereka ke Ka’bah dan Rasulallah saw ditengah-tengah mereka”.

rahman lubis

Batu Dari Surga




- Asal Usul Hajar Aswad

Hajar Aswad merupakan area sempit dan tempat permulaan dan akhir thawaf. Sebelum thawaf diharuskan memberi salam (disunahkan mengusap atau menciumnya), karena itu diperebutkan jutaan orang saat berhaji atau umrah hanya sekedar untuk menciumnya. Mencium atau mengusap Hajar Aswad di musim haji penuh perjuangan yang dahsyat. Mencium Hajar Aswad bukanlah suatu kewajiban, tapi merupakan anjuran dan sunnah Nabi saw. Maka kalau keadaan tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakan terutama di musim Haji, sebaiknya urungkan saja niat untuk mencium atau mengusap batu ini, cukup hanya memberi salam dari jauh.

Hajar Aswad berada ribuan tahun sebelum orang orang Jahiliyah menduduki Makkah. Hajar Aswad berada di sudut Ka’bah seumur dengan umur Ka’bah itu sendiri. Disaat Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah tinggal satu bagian yang belum terpasang yaitu Hajar Aswad. Lalu nabi Ismail pergi mencari suatu. Nabi Ibrahim as berkata “Carilah sebuah batu seperti yang aku perintahkan”. Nabi Ismail mencarinya dan tidak mendapatkanya. Ia kemudian kembali ke Ka’bah, dan ia melihat di tempat tersebut telah terpasang Hajar Aswad. Maka ia berkata; “Ayaku, siapa yang membawa batu ini kepadamu?” Ibrahim as berkata: “yang membawanya kepadaku adalah Jibril dari langit (surga)”.
Pencurian Hajar Aswad
Hajar Aswad mulanya hanya satu batu tidak pecah dan terpisah pisah, tetapi kemudian pecah menjadi 8 bagian. Itu terjadi karena Hajar Aswad pernah dicabut pengikut Abu Thahir al-Qarmithi pada 319 H. Abu Thahir Qirmithi Sulaiman bin Abi Said adalah seorang raja dari Bahrain yang memimpin pasukan untuk menyerang Baitullah pada Hari Tarwiyah. Ia membawa 700 pengikut yang masuk ke Masjidil Haram dan membabi buta membantai para jamaah haji di Tanah Haram. Dengan secara biadab ia memukul Hajar Aswad dengan alat pencongkel dan memecahnya. Kemudian dibawanya ke Bahrain pada tanggal 14 Dzulhijah. Niatnya agar orang orang islam tidak melakukan lagi ibadah haji ke Makkah. Namun niatnya itu tidak berhasil dan sia-sia belaka. Tempat Hajar Aswad di Kabah menjadi kosong beberapa tahun. Orang-orang pun menempelkan tangan mereka di tempat tersebut untuk mencari barokah sampai Hajar Aswad dikembalikan ke tempatnya semula di Kabah, yaitu setelah kebinasaan Abu Thahir Qirmithi. Hajar Aswad berada di tangan Qirmithi dan para pengikutnya selama 22 tahun (Al-Bidayah Wan Nihayah).

Setelah Hajar Aswat dikembalikan untaian 8 batu itu disambung dengan perak menjadi satu kesatuan dengan batu di sekitarnya yang kemudian diberi bingkai lingkaran perak. Kedelapan batu itu seukuran buah kurma, dan kedelapan untaian batu itulah yang dianjurkan menciumnya atau menyalami sebelum dan sesudah thawaf.

- Beberapa Peristawa Berhubungan Dengan Hajar Aswad

1. Pada tahun 363 H seorang laki-laki datang dari Romawi. Saat mendekati Hajar Aswad, ia mengambil cangkul dan memukulkannya dengan kuat ke sudut tempat Hajar Aswad hingga berbekas. Ketika ia akan mengulangi perbuatannya, seorang Yaman datang dan menikamnya sampai roboh (Bawwabah al-Haramain Asy-syarifain).

2. Pada tahun 413 H Bani Fatimiyah mengirim beberapa orang pengikutnya dari Mesir di bawah pimpinan Hakim Al Abidi, di antaranya ada seorang laki-laki berkulit merah, berambut pirang dan berbadan tinggi besar, sebelah tangannya menghunus pedang sedang yang sebelah lagi memegang pahat, lalu dipukulkannya ke Hajar Aswad tiga kali hingga pecah dan berjatuhan, sambil berkata, “Sampai kapan Batu hitam ini disembah, sekarang tidak ada Muhammad atau Ali yang dapat melarang dari perbuatanku, kini aku ingin menghancurkan Ka’bah”. Kemudian pasukan berkumpul untuk membunuhnya (Ibnu Atsir).

3. Pada tahun 990 H. datang seorang laki-laki asing (bukan orang Arab) membawa sejenis kampak dan dipukulkannya ke Hajar Aswad, lalu Pangeran Nashir menikamnya dengan belati hingga mati (Fadhlu al-Hajarul Aswad oleh Ibnu ‘Alan).

4. Di akhir bulan Muharram tahun 1351 H seorang laki-laki datang dari Afghanistan. Ia mencungkil pecahan Hajar Aswad dan mencuri potongan kain Kiswah serta sepotong perak pada tangga Ka’bah. Penjaga masjid mengetahui perbuatannya kemudian menangkapnya, diapun dihukum mati oleh pemerintah setempat (Tarikh al-Ka’bah oleh Husen Basalamah).

- Kenapa Hajar Aswad Harus Dicium?

Pertanyaan ini sebetulnya sudah pernah dilontarkan khalifah kedua Umar bin Khattab ra disaati mencium Hajar Aswad. Beliau berkata kepadanya “Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak mendatangkan bahaya dan memberi manfaat, kalaulah bukan karena aku pernah melihat Rasullah saw menciummu nistaya aku tidak akan memciummu” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Hajar Aswad dan Maqam adalah dua buah batu diantara batu batu Yaqut (batu mulia) diambil dari surga, andaikan Allah tidak menghilangkan cahayanya niscaya sinarnya akan menerangi antara timur dan barat. (H.R. Ahmad )

Kita adalah umat nabi Muhammad saw yang mengikuti segala perintahnya tanpa pamrih. Apa yang dilakukan Nabi saw maka lakukanlah dan apa yang dilarang Nabi saw jauhkanlah. Mencium atau mengusap Hajar Aswad saat thawaf adalah anjuran Nabi saw karena beliau selalu menyentuhnya dengan tangannya yang lembut atau menciumnya dengan bibirnya yang mulia.

Demi Allah, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, Allah memberikanya mata dan lidah kepadanya agar dapat melihat dan berbicara dan memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan benar dan ikhlas (H.R. Tirmidhi)

Itulah kemuliaan dan keluhuran Hajar Aswad disisi Allah dan Nabi Nya. Maka tidak heran jika Abdullah putra Umar bin Khattab ra selalu menyentuh Hajar Aswad kemudian mecium tanganya dan berkata “Aku tak pernah meninggalkan perbuatan ini semenjak aku melihat Rasulallah saw menciumnya. (HR Muslim)

Jelasnya, ada beberapa ibadah yang kita tidak perlu mencari-cari apa hikmahnya dari ibadah itu. Seperti apa hikmahnya thawaf? Apa hikmahnya sa’i? Apa hikmahnya melempar batu Jumrah? Apa hikmahnya wukuf di Arafah? Apa hikmahnya mencium Hajar Aswad? Apa hikmahnya itu dan apa hikmahnya ini. Ada beberapa ibadah yang kita tidak perlu tahu apa hikmahnya, karena disitu tersimpan rahasia Allah yang tidak bisa diketahu hambaNya. Maka apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya lakukanlah dengan baik dan apa yang dilarangnya jauhkanlah sejauh jauhnya.

Semoga Allah memberikan kepada kita jalan yang lurus dan memudahkan kita bisa sampai ke tempat yang mulia Makkah agar bisa mecium Hajar Aswad sebagaimana Rasulallah saw menciumya dengan bibirnya yang lembut. Amin

rahman lubis

Hijir Ismail




Dulu Hijir Ismail berbentuk lingkaran penuh tetapi pada zaman quraisy terjadilah perbaikan dan terpotong separuh lingkarannya dengan demikian disebut:Hathim yang artinya terpotong. Hijir yaitu tempat dimana Ibarahim as meletakan istrinya Hajar dan putranya Ismail. Ia memerintahkan Hajar untuk membuat bangsal di tempat itu. Ada pula yang meriwayatkan bahwa nabi Ismail as dan ibunya dikubur di Hijir Ismail. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Hijir ismail atau Hathim ini adalah bagian dari kabah (kira-kira 3 meter) oleh sebab itu tidak sah thawaf seseorang jika hanya mengelilingi Ka’bah tapi harus juga mengelilingi Hijir Ismail.

Dulu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah, makanya saat thawaf diharuskan mengelilinginya. Pada masa Quraisy Ka’bah mengalami perombakan. Setelah dirombak, bangunan asli Ka’bah berobah dengan bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan mengalami penyempitan. Penyempitan itu terjadi di daerah Rukun Syami, sehingga membuat Hijir Ismail tidak lagi masuk dalam Ka’bah. Hijir Ismail seolah-olah berada di luar bangunan Ka’bah dan bentuknya seperti yang kita lihat sekarang. Hal ini dikuatkan melalui Hadits Rasulallah saw. Siti Aisyah ra. pernah bertanya kepada rasulullah saw. mengenai dinding hijir ismail.Apakah ia bagian dari rukun suci ini? Nabi menjawab: “betul”. Kemudian Aisyah bertanya lagi: Mengapa mereka tidak memasukkan sekalian sisanya ke kabah? Nabi menjawab:”sebab kaummu kekurangan dana.” (H.R. Nasa’i)

Pada zaman Abdullah bin Zubair menjadi penguasa Makkah, beliau berkehendak mengembalikan Ka’bah sesuai dengan bentuk yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as. Setelah dimusyawaratkan dengan pemuka pemuka Makkah, beliau melakukan hal tersebut, ia menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali. Ia memasukkan hijir Ismail (batu setengah lingkaran yang berada di halaman Ka’bah) ke dalam bangunan Ka’bah, lalu membuat dua pintu Ka’bah yang rata dengan tanah, satu arah timur dan satu arah barat.

Pada kekuasaan Abdul malik bin Marwan, ia memerintahkan Hajjaj bin Yusuf Ats-tsaqafi untuk menutup pintu Ka’bah bagian barat yang dibuat oleh Ibnu Zubair ra dan menghancurkan bangunan tambahan di Hijir Ismail yang masuk ke dalam bangunan Ka’bah. Kemudian Hajjaj menutup pintu Ka’bah bagian barat dan membongkar dinding ke arah Hijir ismail sehingga terpisah dari Ka’bah. Demikianlah bentuk Ka’bah dibiarkan dalam posisi sepeti itu sampai sekarang ini.

Menurut riwayat dari Aisyah ra. bahwasanya beliau berkata:”Aku ingin sekali masuk ke kabah dan sholat didalamnya, lalu rasulullah saw. menarik tanganku dan membawanya ke dalam hijir ismail, sambil berkata:”Sholatlah di dalamnya jika engkau ingin masuk kabah, karena ia merupakan bagian dari Ka’bah”

Setengah lingkaran Hijir Ismail membentang sepanjang 21,57 meter. Garis tengah dari Rukun Hajar Iraqi dan Rukun Syami 11,94 meter, dan dari dinding Ka’bah ke bagian dinding dalam 8,42 meter. Lebar kedua sisi pintunya 2,29 meter, panjang dari pintu ke pintu 8,77 meter. Di dalam Hijir Ismail yang kecil itulah orang berebutan masuk, shalat dan berdoa meminta apa saja sesuai dengan hajat masing-masing. Konon do’a yang paling mustajab di Hijir Ismail dilakukan di bawah talang air.

Sejak terpisahnya dari dari Ka’bah, Hijir Ismail mengalami perbaikan. Dan orang yang pertama kali memperbaiki Hijir Ismail dengan memasang marmer pada pilar Hijir adalah Abu Ja’far Manshur, khalifah Bani Abbasiah, pada tahun 140 H. Demikian seterusnya Hijir Ismail mengalami pembaharuan dari tahun ke tahun sampai sekarang ini.

rahman lubis

sekitar maqam dan zam-zam

Masa Amaliqah, Jurhum Dan Quraisy
Ka’bah Dan Amaliqah & Jurhum

Sepeninggal Nabi Ibrahim dan Ismail as, Ka’bah diteruskan oleh suku Amaliqah dari Yaman. Dikisahkan pada zaman Amaliqah, Ka’bah hampir tidak ada perombakan pada bangunannya tapi hanya ada perbaikan dari bangunannya yang runtuh dan rusak saja. Karena tidak banyak rujukan yang menguatkan peristiwa ini maka tidak ada yang bisa menerangkan secara rinci hal ihwal bangunan Ka’bah pada masa ini.

Imam Mawardi menerangkan setelah dibangun oleh bangsa Amaliqah, Ka’bah terkena banjir besar dari dataran tinggi Mekah yang mengakibatkan rusaknya dinding Ka’bah meskipun tidak roboh. Suku Jurhum-lah yang kemudian membangunnya kembali seperti sediakala dengan menambah bangunan di luar Ka’bah untuk penahan luapan air bila terjadi banjir kembali

Ka’bah Dan quraisy

Setelah Bangsa Jurhum berlalu, Ka’bah kemudian sampai ke tangan Qushay bin Kilab. Ia adalah seorang pemuka dari suku bangsa Quraisy. Qushay-lah yang pertama kali membangun atap Ka’bah. Ia membuatnya dari kayu dan pelepah kurma. Sepeninggal Qushay, bangsa Quraisy mulai mengurusi Ka’bah. Bangsa Quraisy adalah suku bangsa dan keluarga Nabi saw.

Beberapa tahun sebelum Rasulallah saw diutus menjadi rasul, batu batu dinding Ka’bah bagian atas sudah mulai pecah dan berantakan, lagi pula tingginya tidak terlalu jauh dari ukuran orang berdiri, sehingga mudah bagi orang untuk memanjat lalu mencuri barang barang berharga yang terdapat didalamnya. Bangsa Quraisy berkeinginan untuk meninggikan dinding Ka’bah dan memberikan atap, tapi mereka merasa takut kualat untuk menghacurkanya, hingga Al-Walid bin Al-Mughirah memberanikan diri untuk menghancurkanya. Ketika orang orang melihat ia tidak mengalami apa apa, bangsa Quraisy lainya baru mulai berani menghancurkanya.

Sebelum Rasulallah saw diutus menjadi rasul yang pada saat itu beliau sudah menginjak dewasa, kurang lebih usia beliau pada saat itu 35 tahun, ada seorang wanita membuat percikan api yang mengakibatkan kelambu Ka’bah terbakar dan kemudian api merambat ke seluruh bangunan Ka’bah. Bangsa Quraisy merobohkannya kemudian membangunnya kembali. Di saat akan memasang kembali Hajar Aswad, suku-suku dari bangsa Quraisy terlibat persengketaan, karena mereka pada merasa paling berhak untuk mengambil tugas memasang kembali Hajar Aswad pada posisinya semula. Karena perselisihan tidak bisa diredakan, mereka bermusyawarah di Darun Nadwah membuat qur’ah atau sebuah sayembara siapa yang pertama kali masuk Baitullah dari pintu Bani Syaiba, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di bangunan Ka’bah.

Subhanallah, dari kuasa Allah yang memenangi sayembara itu ternyata Muhammad putera Abdullah putera Abdul Muthalib (Rasulullah saw). Akan tetapi apa yang dilakukan Rasulallah saw? Apakah beliau sendiri yang memindahkan hajar aswad ke tempatnya? Tidak. Meskipun beliau yang berhak untuk meletakkannya, tapi beliau memutuskan untuk mengerjakan bersama-sama agar masing-masing suku Quraisy tetap merasa dihargai dan memiliki kewenangan yang sama. Dari sinilah Rasulallah saw dikenal sebagai pribadi yang bijaksana dan bisa dipercaya. Beliau segera membentangkan kain yang semua ujungnya dipegang oleh para pimpinan suku Quraisy. Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain dan dibawa bersama-sama. Kemudian beliau menempelkan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula. Pembangunan Ka’bah lalu diteruskan.

Saat itu, Bangsa Quraisy membangun enam tiang di dalam Ka’bah dengan posisi dua jajar. Atas usulan seorang tokoh, Hudzaifah bin Mughirah, Ka’bah ditinggikan pada bagian pintunya. Mughirah ingin agar bangunan Ka’bah dilengkapi dengan tangga dan hanya dimasuki oleh orang-orang yang disukai. Bila ada orang yang tidak disukai ingin masuk ke Ka’bah, masyarakat bisa menolaknya dan berarti Ka’bah akan aman dari orang-orang yang tidak disukai oleh Bangsa Quraisy. Dari usul ini, kemudian ketinggian Ka’bah berubah dari 9 hasta menjadi 18 hasta.

Sejak masa pembangunan oleh Suku Quraisy, bangunan asli Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim mengalami penyempitan dan bentuknya seperti yang kita lihat sekarang. Penyempitan itu terjadi di daerah Rukun Syami, sehingga membuat Hijir Ismail tidak lagi masuk dalam lingkaran Ka’bah. Hijir Ismail seolah-olah berada di luar bangunan Ka’bah. Hal ini dikuatkan melalui Hadits Rasulallah saw yang diriwatkan oleh an-Nasa’i, Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat di dalam Ka’bah meskipun pintunya ditutup rapat, ia bisa melaksanakannya di dalam Hijir Ismail. Seperti yang diperintahkan Rasulullah saw kepada Siti Aisyah ra (Menyusul kisah Hijir Ismail).

Abdul rahman lubis

Jumat, 18 Maret 2011

TERUNTUK AYAH DAN IBU


TERUNTU AYAH DAN IBU TERCINTA

Ayah, Ibu …
Aku selalu ingat pada kalian
Aku selalu Cinta dan menyayangi kalian
Ayah, Ibu …
Maafkan Aku yang tak kunjung pulang
Maafkan Aku yang selalu berharap ini semua akan cepat berakhir
Ayah, Ibu …
Aku akan tetap menemani apapun yang terjadi
Aku takkan menyerah apapun sakitnya kenyataan ini
Ayah, Ibu …
Demi Hidup kalian merelakan harga diri
Demi Hidupku kalian mengorbankan Perasaan hingga segalanya
Ayah, Ibu …
Terima kasih …
Aku takkan rela jika Aku tiada Bahagiakan kalian!!!



(RAHMAN LUBIS)